Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Inovasi Administrasi Publik

Memahami Inovasi Administrasi

Kata inovasi memiliki sejumlah makna. Seperti yang dikemukakan oleh Ancok dalam bukunya Psikologi Kepemimpinan dan Inovasi, memberikan definisi inovasi sebagai suatu proses memikirkan dan mengimplementasikan pemikiran, sehingga menghasilkan hal baru berbentuk produk, jasa, proses bisnis, cara baru, kebijakan, dan lain sebagainya. Kemudian menurut O’Sullivan dan Dooley inovasi adalah proses membuat perubahan terhadap sesuatu yang telah mapan melalui introduksi suatu hal baru yang memberikan nilai tambah bagi konsumen. Sementara itu, Anthony mengartikan inovasi dalam pengertian yang lebih sederhana, yaitu sebagai sesuatu yang berbeda yang berdampak. 

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik makna bahwa inovasi adalah proses memikirkan dan mengimplementasikan sesuatu yang original, penting, dan berdampak. Dari pemahaman tersebut, maka jika dikaitkan dengan kajian Administrasi Publik dapat diartikan sebagai proses memikirkan dan mengimplementasikan kebijakan penyelenggaraan kepentingan publik yang original, penting, dan berdampak. Ini  artinya inovasi yang terjadi dalam kajian Administrasi Publik menjadi salah satu kajian strategis yang bertujuan untuk mengakselerasi keberhasilan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Inovasi Administrasi Publik dapat dilihat dari dua sisi, pertama, inovasi Administrasi dilihat secara konseptual sebagai evolusi perkembangan studi Administrasi Publik. Kedua, dilihat secara praktis sebagai solusi ataupun jawaban terhadapa semua permasalahan yang terjadi di dalam Administrasi Publik.


Pemahaman terhadap dua sisi inovasi Administrasi Publik seperti disebutkan diatas merupakan hal yang sangat penting karena kajian inovasi Administrasi Publik sering dibahas di berbagai forum, akan tetapi belum ada kejelasan tentang bagaimana pelaksanaan inovasi administrasi publik itu sendiri.

Administrasi publik telah mengalami inovasi secara bertahap dari perspektif klasik sampai kontemporer. Sejak kemunculannya pada masa menjelang abad ke-20 sampai dengan sekarang ini, Administrasi Publik (public administration) memiliki empat orientasi yang berbeda, yang masing-masing disebut dengan Administrasi Publik lama (old public administration), Administrasi Publik baru (new public administration), manajemen publik baru (new public management), dan pelayanan publik baru (new public service). Setiap perkembangan paradigma memiliki pandangan yang berbeda mengenai fokus, peran manajer publik, nilai, pola hubungan, dan lain sebagainya.

Perlu juga dipahami bahwa Administrasi Publik bukanlah entitas yang statis. Sejak awal kelahirannya sampai sekarang ilmu ini terus mengalami perkembangan paradigma. Hal ini menunjukkan bahwa Administrasi Publik sesungguhnya terus berkembang dan mendinamisasikan dirinya. Kini, di masa kontemporer, Administrasi Publik dituntut untuk berkembang lebih jauh seiring dengan tantangan baru yang dihadapinya. Salah satu tuntutan tersebut hadir dalam bentuk seruan untuk menjadikan Administrasi Publik sebagai ilmu yang bersifat interdisipliner. Seruan ini terkait erat dengan kebutuhan Administrasi Publik untuk menegaskan identitasnya, baik sebagai ilmu maupun profesi. Jika dulu pada masa-masa awal pendirian Administrasi Publik pencarian identitas ini terkait dengan kebutuhan untuk mendapatkan legitimasi sebagai ilmu yang berdiri sendiri, kini hal ini berkaitan dengan kebutuhan untuk mereposisi jati diri untuk mendapatkan bentuk yang sesuai dengan perkembangan dan tantangan terkini.


Dengan menjadikan dirinya sebagai ilmu interdisipliner, Administrasi Publik akan cakap merespons berbagai perkembangan terkini seperti demokratisasi, globalisasi, kemajuan teknologi informasi, dan perubahan iklim. Jadi, Administrasi Publik tidak secara eksklusif membatasi dirinya kepada pertanyaan dan penyelidikan di seputar politik, kebijakan publik, dan manajemen publik.  Administrasi Publik berhubungan dengan kepublikan dalam spektrumnya yang paling luas. Selain perubahan lingkungan strategis, ada dua pendorong utama di balik seruan untuk menjadikan Administrasi Publik sebagai ilmu interdisipliner. Pertama, harapan yang semakin besar dan menantang dari publik akan kualitas kebijakan dan kinerja dari Administrator Publik.

Kedua, perkembangan dari ilmu-ilmu sosial lain yang mempengaruhi Administrasi Publik seperti ekonomi, politik, sosiologi, dan manajemen.   Gagasan, alat, dan metode yang bersifat interdisipliner akan membantu Administrasi Publik untuk mengatasi tantangan-tantangan kontemporer yang dihadapinya. Analisis multilevel, multimetode, dan multisistem yang integral dan berorientasi ke depan menyediakan pengetahuan yang dibutuhkan Administrator Publik untuk mengelola pekerjaannya, meningkatkan kinerjanya, dan mencapai tujuannya. Bagaimana hal ini secara praktis dijalankan? Prinsip penting yang telah menjadi konsensus adalah perlunya kerjasama yang semakin erat di antara sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk memenuhi kepentingan bersama dengan memanfaatkan semua pengetahuan yang sudah tersedia.


Kemudian, apa relevansi dari sifat multidisipliner Administrasi Publik terhadap upaya untuk melakukan inovasi Administrasi Publik? Multidisiplinaritas mengisyaratkan pencarian sumber-sumber pengetahuan sebanyak mungkin, merentang dari batas-batas konvensional yang selama ini dipahami. Hal ini berlaku terlebih untuk inovasi, yang berurusan dengan pencarian hal-hal baru yang bermanfaat. Kebaruan tidak akan didapatkan jika inovator hanya berputar-putar di tempat yang selama ini telah dijelajahinya. Untuk menginisiasi, menjalankan, dan mengelola inovasi Administrasi Publik, maka para inovator harus menyadari bahwa pemahaman dan penguasaan yang mumpuni akan ragam keterampilan dan pengetahuan menjadi prasyarat. Misalnya, ketika akan melakukan inovasi teknologi berupa pengadopsian e-government, maka inovator tidak boleh hanya memperhatikan aspek-aspek yang berhubungan dengan Administrasi Publik seperti cara melakukan perencanaan, pengelolaan, koordinasi, dan kerjasama, melainkan juga harus mempunyai pengetahuan yang setidaknya bersifat dasar dan umum mengenai perangkat teknologi dan sistem teknologi. 

Dalam ruang lingkup Administrasi Publik khususnya sektor pemerintahan, inovasi dirasakan masih tertinggal dibandingkan dengan sektor bisnis. Hal ini tentunya tidak terlepas dari budaya birokrasi yang sangat kental sehingga hal ini mengurangi tingkat kreativitas para pelaku birokrasi. Meskipun banyak aparatur sipil yang berniat untuk melakukan inovasi, namun mereka masih mempertanyakan mengapa, apa, bagaimana, siapa, dan di mana harus melakukan inovasi. Ada juga yang telah mulai mencoba untuk menginisiasi dan menjalankan inovasi, tetapi mengalami kesulitan untuk mengelolanya secara efektif atau menjalankannya secara berkesinambungan. 

Referensi: 
Ancok, Djamaludin. 2012. Psikologi Kepemimpinan & Inovasi. Jakarta: Erlangga.
Anthony, Scott D. 2013. The Little Black Book of Innovation: Bagaimana Inovasi Bekerja, Bagaimana Kita Melakukannya. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Bekkers, Victor, Jurian Edelenbos & Bram Steijn. 2011. Innovation in the Public Sector: Linking Capacity and Leadership. Hampshire & New York: Palgrave Macmillan.
Denhardt, Janet V. & Robert B. Denhardt. 2007. The New Public Service: Serving, Not Steering (Expanded Edition).
Armonk, NY & London: M.E. Sharpe. Denhardt, Robert B. 2008. Theories of Public Organization (5th Edition). Belmont, CA: Thomson Wadsworth. Doran, Justin. 2012. “Are Differing Forms of Innovation Complements or Substitutes?”, European Journal of Innovation Management, Vol. 15, No. 3, hal. 351-371. 
Dwiyanto, Agus. 2004. “Reorientasi Ilmu Administrasi Publik: Dari Government ke Governance”, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, 21 Agustus, hal. 1-29. 
O’Sullivan, David dan Lawrence Dooley. 2009. Applying Innovation. Thousand Oaks, CA: Sage. Raadschelders, Jos C.N. 2012. Public Administration: The Interdisciplinary Study of Government. New York: Oxford University Press. 
Vigoda, Eran. 2002. Public Administration: An Interdisciplinary Critical Analysis. New York: Marcel Dekker. 
___________. 2003. “Rethinking the Identity of Public Administration: Interdisciplinary Relections and Thoughts on Managerial Reconstruction”, Public Administration & Management: An Interactive Journal, Vol. 8, No. 1, hal. 1-22.
Windrum, Paul. 2008, “Innovation and Entrepreneurship in Public Services”, dalam Paul Windrum & Per Koch (eds). Innovation in Public Sector Services: Entrepreneurship, Creativity & Management. Cheltenham & Northampton, MA: Edward Elgar.
Suripto dan Prasetyo, AG. 2014. Memahami Inovasi Administrasi Negara. Jakarta: Pusat INTAN DIAN LAN.

Post a Comment for "Memahami Inovasi Administrasi Publik"

View My Stats