Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kualitas Individu Dalam Proses Pengembangan Organisasi

Kualitas Individu Dalam Organisasi
Organisasi yang bagus pastinya menginginkan individu yang berkualitas untuk bisa mengelola sebuah organisasi. Karena individu yang berkualitas akan menentukan arah kinerja sebuah organisasi. Individu-individu yang berkualitas merupakan aset yang harus dipelihara oleh sebuah organisasi untuk kemajuan organisasi tersebut.

Ada dua faktor pembentuk kualitas seorang individu sehingga menjadi personal yang unggul, yaitu kemampuan dan motivasi. Kemampuan akan memperlihatkan potensi seseorang dalam melakukan kegiatan dalam organisasi, sedangkan motivasi merupakan sebuah proses yang memperlihatkan interaksinya dalam sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang di ambil dalam sebuah organisasi.

Menurut Gibson, ada tigs variabel yang akan mempengaruhi perilaku individu dalam organisasi, yaitu:
1. Variabel individu, dalam variabel ini, kemampuan, keterampilan, keahlian serta latar belakang demografi menjadi patokan seseorang dalam organisasi.
2. Variabel organisasi, merupakan variabel yang berhubungan dengan sumber daya, kepemimpinan, penghasilan, struktur, desain kerja dan sebagainya yang menjadi syarat dalam sebuah organisasi.
3. Variabel psikologis, variabel ini berkaitan dengan persepsi, sikap, kepribadian, cara belajar dan motivasi individu.


Menurut Peter M. Senge (1997), bahwa ada lima disiplin dalam pembelajaran organisasi, yaitu system thinking, personal mastery, mentals models, building shared vision dan team learning.

Systems thinking atau berfikir secara sistem merupakan tonggak konseptual yang mendasari semua pilar disiplin organisasi. Berfikir sistem memiliki kepentingan terhadap pergeseran pola fikir (shift of mind) dari cara pandang parsial menuju cara pandang yang holistik. Oleh karena itu berfikir sistem merupakan paradigma yang melihat pada superioritas kesatuan yang menyeluruh (a paradigma premised upon the primary of the whole). Berfikir sistem merupakan disiplin yang melihat fenomena secara keseluruhan sehingga lebih menekankan kepada kerangka pikir yang saling berkaitan (interconnectedness). Berfikir sistem juga merupakan cara pandang yang berfokus pada perubahan (pattern of change) sehingga tidak melihat suatu fenomena yang hanya didasarkan pada cara yang statis.

Personal mastery atau personal vision pada hakekatnya merupakan disiplin pribadi yang secara terus-menerus berusaha mencapai visi pribadi melalui focusing dan refocusing dengan melihat realitas secara obyektif agar pilihan-pilihan yang diambil mengakomodasikan visi pribadi dan realitas yang dihadapi dengan jalan menfokuskan energi dan mengembangkan kesabarannya. Meningkatkan penguasaan diri pribadi merupakan suatu hal penting dalam organisasi karena komitmen membangun pembelajaran diawali oleh komitmen individu. Organisasi akan lebih cepat mencapai tujuannya apabila setiap individu dalam organisasi memiliki tingkat kemampuan diri yang tinggi. Karakteristik Personal Mastery pada tingkat yang tinggi adalah; mempunyai komitmen yang tinggi, berinisiatif, kreatif, mempunyai visi pribadi yang jelas, memiliki kepercayaan diri yang dalam, mempunyai rasa tanggung jawab yang mendalam, selalu berusaha mengembangkan diri, mempunyai kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan, dan mampu melihat realitas secara obyektif.

 
Mentals models merupakan sebuah kerangka untuk memandang sesuatu yang dianggap benar tetapi belum dibuktikan kebenarannya. Dengan demikian mentals models merupakan jendela dari mana seseorang melihat dan bagaimana mengadaptasikan diri dengan lingkungan yang berubah. Nilai seseorang sangat ditentukan oleh konstribusi mentals models yang dimilikinya. Mental model yang baik memungkinkan pemiliknya menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungannya.

Building Shared Vision (membangun visi bersama) salah satu disiplin pembelajaran yang berfungsi menyatupadukan potensi organisasi untuk meraih sukses bersama-sama. Visi bersama adalah visi yang dibentuk dari visi indvidu-individu, dengan tujuan agar visi organisasi dapat merupakan kepemilikan bersama karena seluruh anggota mempunyai andil dalam pembentukannya. Visi adalah gambaran atau imajinasi yang ingin diwujudkan. Visi menyatakan masa depan yang menjanjikan (attractive future), nyata (realistic) dan dapat dipercaya (credible).

Misi memberi jawaban atas pertanyaan apa yang individu/organisasi kerjakan. Misi bersifat menantang dan memberikan kekuatan (energizibng) kepada seseorang maupun organisasi. Menurut Osborne (1995) pemerintahan yang digerakkan oleh misi lebih efisien, lebih efektif, lebih inovatif, lebih fleksibel, dan mempunyai semangat yang tinggi ketimbang organisasi yang digerakkan oleh peraturan.


Nilai adalah sikap atau perilaku dalam mengejar visi; sikap terhadap orang dalam organisasi, sikap menghargai pelanggan, masyarakat sikap pelayanan dan batas-batas simbol tuntutan perilaku yang akan menolong orang bergerak menuju visi.

Team learning suatu proses pengembangan kapasitas suatu tim untuk menciptakan atau mencapai hasil yang sesungguhnya diinginkan oleh anggota-anggota tim. Bangunan dari team learning adalah saling percaya, saling menjunjung tinggi, anggota saling mengisi. Pembelajaran sebenarnya adalah kegiatan untuk meningkatkan kapasitas (knowledge skill) dan menerapkan dengan efektif (increasing one’s capacity to take efective action). Team learning memiliki tiga dimensi, yaitu: keharusan untuk berfikir jernih dan mendalam menghadapi issue yang pelik, kebutuhan untuk bertindak inovatif dan terkoordinasi, dan kesediaan anggota tim untuk berperan dalam tim-tim lain sehingga saling melengkapi dan saling menunjang.

Post a Comment for "Kualitas Individu Dalam Proses Pengembangan Organisasi"

View My Stats